Tanpa Tadabbur, Hafalan Tak Akan Nampak Pada Akhklak dan Amalan

Menghafal al qur’an adalah ibadah. Betapa tidak, bacaan fasih dan terbata-batanya tetap mendapat ganjaran disisi Allah. Yang lancar bacaannya, bagus tajwid dan makharijul hurufnya, bersyukurlah! Karena mereka yang lancar akan bersama Malaikat-Nya. Yang terbata-bata, bersyukurlah! Karena baginya dua pahala yang membahagiakan. Pahala pertama karena semangat dan tidak putus asanya untuk berlajar. Dan pahala kedua adalah karena bacaan al qur’annya.

Judul diatas bukan ingin menyudutkan hafalan, hingga kamu yang mau menghafal seakan terganggu. Atau yang sudah dalam perjalanan menghafal dan yang sudah selesai hafalannya mereasa terbebani. Tidak kawan!

Judul diatas hanya berniat untuk saling mengingatkan. Tentang apa? Tentang yang seharusnya kita terapkan dalam muamalah kita dengan ayat-ayat-Nya yaitu tadabbur. Karena al qur’an target diturunkannya bukan hanya untuk dihafal, tapi untuk ditadabburi.

كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٞ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ

“Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (Q.s: Shad: 29)

Banyak yang membaca al qur’an, dari yang kecil hingga yang besar, dari yang muda hingga yang tua dan dari perempuan hingga laki-laki, semuanya membaca al qur’an. Tapi yang membaca ini tidak semuanya bertadabbur. Hanya orang-orang tertentu yang melakukannya.

Kenapa tidak tadabbur? Apakah karena tidak paham al qur’an atau tidak tau maknanya?
Semua jawaban untuk pertanyaan diatas akan terbantahkan. Jika tak paham bahasa Arabnya minimal membaca terjemahannya. Cuma masalahnya, kayaknya bukan itu. Bukan mata tak mau melihat terjemahan dan mulut membacanya. Sepertinya hati telah kotor hingga ia tertutup oleh noda dosa.

Seperti pertanyaan Allah plus jawaban-Nya berikut akan membuat kita tersadar sejenak.
Firman-Nya:

أفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ أَمۡ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقۡفَالُهَآ

“Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?” (Q.s: Muhammad: 24)

Apa makna tadabbur sebenanrnya?
Secara singkat, tadabbur berasal dari kata “Dubur” artinya bagian belakang atau bagian akhir. Seperti sabda Nabi tentang anjuran untuk membaca doa di akhir sholat sebelum salam.

لا تدعن دبر كل صلاة أن تقول: اللهم أعني على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك

Artinya: “janganlah lupakan disetiap akhir sholat engkau membaca do’a: ya Allah, bantulah aku untuk mengingatM dan bersyukur kepadaMu dan bantu aku untuk memperbaiki ibadahku.” (H.R: An Nasai & Abu Daud)

Maksudnya adalah ketika seseorang telah membaca ayat-ayat-Nya. Diakhir bacaannya hendaklah ia diam sejenak. Merenungi indahnya al qur’an, entah itu dari sisi cara pengucapan, suara yang kita dengar, tulisan huruf-hurufnya dan sebagainya. Dan tentunya merenungi makna dan kandungan yang ada pada ayat yang dibaca.

Tanpa memperhatikan rambu-rambu untuk tadabbur, membaca al qur’anpun serasa tak membekas pada diri, akhlak, amalan hingga perubahan hidup.

Dalam kitab Fahmul Qur’an hal.276, Imam Hasan al Bashri rahimahullah mengatakan, “sesungguhnya al qur’an ini dibaca oleh orang besar dan anak kecil yang tidak memiliki ilmu tentang ta’wilnya. Ayat-ayatnya tidak ditadabburi melainkan membacanya hanya sekedarnya saja. Tidak dijaga huruf-hurufnya dan batasan-batasannya diabaikan. Sampai-sampai ada yang berkata, “sungguh, saya membaca al qur’an dan tak satupun keliru huruf-huruf ketika membacanya. Padahal sungguh dia telah banyak keliru, karena al qur’an tidak terlihat pada akhlak dan amalannya.”

Tadabburilah al qur’an. Renungilah kandungan dan maknanya. Niscaya akhlak akan terpancarkan sebabnya dan amalan ibadahpun akan semakin meningkat karenanya. Menjadi ummat Nabi berarti menjadi ummat yang ketika menghafal kitab-Nya, qudwah dalam menghafal adalah Sang Nabi mulia. Seperti kata Aisyah ketika ditanya tentang akhlak Nabi, jawaban beliau adalah akhlak Nabi adalah al qur’an.

Wallaahu ‘alaam bish showwab.

Penulis:
Absaid (Alumni STIBA Makassar, Penulis Buku “Naungan Cinta”)

Sumber: Kitab “Liyaddabbaru aayaatih” Karangan: Syaikh Umar Abdullah al Muqbil

Sumber dari: https://wahdah.or.id/tanpa-tadabbur-hafalan-tak-akan-nampak-pada-akhklak-dan-amalan/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.