SELAMAT NATAL SAUDARAKU?! 

Seringkali kita di akhir tahun dihadapkan permasalahan seperti ini, bolehkan kita mengucapkan selamat Natal? Bolehkah kita ikut diacara mereka ketika diundang? Kalau diundang di hari yang lain apa bisa, bukan pas tgl 25 nya?

Apalagi akhir-akhir ini kita dipertontonkan dimedia sosial kita beberapa kelompok umat islam dengan santainya mengukti acara tersebut, bahkan ada yang membuat acara hadrah, ataupun rebana dengan dalih toleransi? Apa memang hal itu boleh?

Para pembaca yang Budiman, agama islam sangat mengajarkan keindahan, toleransi, gotong royong, guyub rukun, menebar cinta dan kasih.

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Q.S. Al Anbiya’ : 107)

Dan juga Allah memerintahkan kepada kita, agar hati yang kita miliki itu tidak boleh keras dalam berhubungan sesama manusia.

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Q.S. Ali Imran : 159)

Namun kendati demikian saudaraku, Natal ini termasuk bagian dari keyakinan, i’tiqod, aqidah yang seyogyanya seorang muslim tidak boleh mencampur adukkan aqidah islamiyah yang ia miliki dengan aqidah milik agama lain.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah mengatakan :

تهنئة الكفار بعيد الكريسماس أو غيره من أعيادهم الدينية حرام بالاتفاق

“Mengucapkan selamat kepada orang-orang kafir pada hari Raya Cristmas (Natal) ataupun yang lain pada hari Raya agama mereka hukumnya haram menurut kesepakatan seluruh ulama”.

Syaikh Bin Baz juga mengatakan :

لا يجوز للمسلم ولا المسلمة مشاركة النصارى أو اليهود أو غيرهم من الكفرة في أعيادهم بل يجب ترك ذلك؛ لأن من تشبه بقوم فهو منهم

“Tidak boleh bagi seorang muslim atau muslimah mengikuti orang nasrani atau yahudi atau selain mereka dalam hari Raya agama mereka, bahkan kewajiban bagi kita yaitu meninggalkannya, karena barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka”.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

«خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ»
“Selisihilah orang-orang musyrik, panjangkan jenggot dan cukur kumis kalian” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Kalau permasalahan kumis dan jenggot saja rasulullah memerintahkan kita untuk menyelisihi mereka, lalu bagaimana lagi jika permasalahan tersebut menyangkut aqidah?

Lo Ustadz, kan tidak ada dalil yang spesifik yang menunjukkan kata-kata, jangan kalian mengucapkan selamat Natal dst?

Memang tidak ada dari al qur’an maupun hadits yang mengatakan “jangan kalian mengucapkan Natal!” Dan itulah syubhat dari syaithan yang mengakibatkan sebagian orang terjerumus kedalam ranah keruwetan pada sisi aqidah mereka, kemudian dengan latah memperbolehkannya dengan dalih toleransi.

Maka saya katakan, toleransi umat islam tidak perlu dipertanyakan. Gotong royong bersama non muslim ayo, membantu non muslim yang kesusahan ayo, bermasyarakat dan bertetangga ayok. Ini semua diajarkan dalam agama islam.

Berarti ustadz radikal dan tidak memiliki toleransi karena tidak mau mengucapkan selamat Natal, kan cuma ucapan?!

Baiklah jika permasalahannya hanya ucapan, kemudian dicap tidak memiliki toleransi, sekarang gantian, di hari Raya idul Fitri atau idul adha, gantian ucapkan dua kalimat syahadat? Bagaimana? Mau atau tidak? Pasti tidak mau. Karena ternyata sebuah kalimat itulah penentu keyakinan dan aqidah yang ada di dalam hati seseorang.

Dan juga dari beberapa sumber yang kami dapatkan, baik mengobrol langsung dengan saudara nasrani ataupun membaca dari beberapa literatur, ternyata umat Kristen tidak pernah mengharapkan ucapan selamat natal dari umat muslim. Lalu kenapa sebagian oknum muslim ada yang ngotot boleh mengucapkannya apalagi mengatakan “harus”? Kan rada aneh.

Intinya, marilah kita menjaga kedamaian negri kita, kita saling rukun dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebinekaan, tanpa mengurangi idealisme agama kita masing-masing. Saya yakin dengan kekompakan muslim dan non muslim untuk memajukan Indonesia, kita akan bisa menjadi negara yang kuat dan bermartabat.

Baldatun toyyibatun wa robbun ghofuur.

Madinah, 19 Desember 2021
Ustadz H. Yoshi Putra Pratama S.H.

Sumber dari: https://wahdah.or.id/selamat-natal-saudaraku/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.