Jakarta - Ustadz Abdul Somad (UAS) membagikan kisah penuh makna tentang persatuan dan sikap saling menghargai perbedaan mazhab dalam sebuah pertemuan ulama lintas ormas Islam yang berlangsung menjelang waktu Maghrib di Restoran Madin, Kemang, Jakarta, Rabu (7/1/2026).
Jakarta - Ustadz Abdul Somad (UAS) membagikan kisah penuh makna tentang persatuan dan sikap saling menghargai perbedaan mazhab dalam sebuah pertemuan ulama lintas ormas Islam yang berlangsung menjelang waktu Maghrib di Restoran Madin, Kemang, Jakarta, Rabu (7/1/2026).
Melalui akun Instagram resminya, UAS menceritakan kebersamaan dengan sejumlah tokoh Islam nasional dari berbagai latar belakang organisasi. Hadir dalam pertemuan tersebut Buya Anwar Abas dari Muhammadiyah, Buya Syarfi Hutauruk dari Perti, Prof. Faisol dari Al-Irsyad, serta Ustadz Zaitun Rasmin dari Wahdah Islamiyah.
Momen menarik terjadi ketika azan Maghrib berkumandang dan para ulama bersiap melaksanakan shalat berjamaah. Dalam suasana penuh keakraban, para tokoh saling mendorong untuk menjadi imam hingga akhirnya Ustadz Zaitun Rasmin ditunjuk memimpin shalat.
“Sebelum Maghrib, kami sudah kumpul di Restoran Madin, Kemang. Saya, Buya Anwar Abas (Muhammadiyah), Buya Syarfi Hutauruk (Perti), Prof Faisol (Al-Irsyad) dan Ustadz Zaitun Rasmin (Wahdah Islamiyah). Terdengar azan Maghrib. Kami pun siap-siap shalat. Selesai Wudhu’, saya langsung Iqamat, supaya ada alasan kalau disuruh maju jadi imam." cerita UAS di Instagramnya.
Suasana cair dan penuh keakraban tercipta saat para ulama saling mendorong satu sama lain untuk menjadi imam shalat.
“Maju Ustadz, kami mau dengar bacaan imam Maroko”, kata Buya Anwar Abas.
“Saya sudah iqamat Buya” , jawab UAS.
Pilihan akhirnya jatuh kepada Ustadz Zaitun Rasmin sebagai imam. Menariknya, pertemuan tersebut mempertemukan latar belakang mazhab yang berbeda. Muhammadiyah, Al-Irsyad, dan Wahdah Islamiyah dikenal dengan praktik basmalah secara sir (pelan), sementara Perti dan Nahdlatul Ulama umumnya membaca basmalah secara jahr (keras).
"Saya penasaran, mazhab apa yang akan dibawakan Ustadz Zaitun Rasmin. Karena Muhammadiyah, Al-Irsyad dan Wahdah Islamiyah mazhab Basmalah Sir. Hanya Perti dan NU yang jahr. Sementara KH. Dr. Cholil Nafis (NU) datang ba’da Maghrib." lanjut UAS bercerita.
Di luar dugaan, Ustadz Zaitun Rasmin justru membaca basmalah secara jahr saat memimpin shalat. Pada rakaat ketiga, beliau juga membaca doa qunut nazilah di posisi i’tidal, mendoakan kaum muslimin yang tengah diuji di berbagai wilayah, seperti Palestina, Sudan, Yaman, serta Sumatera.
“Bismillahirrahmanirrahim”, Ustadz Zaitun Rasmin baca Basmalah jahr. Di I’tidal rakaat ketiga, beliau baca, “Allahummahdina fiman hadait”, Qunut Nazilah untuk saudara-saudara kaum muslimin di Palestina, Sudan, Yaman dan Sumatera." terang UAS.
Ustadz Abdul Somad menutup kisahnya dengan satu kata singkat: Unpredictable, menggambarkan betapa indahnya persatuan ketika perbedaan fiqh tidak menjadi penghalang, melainkan jembatan kebersamaan dan doa untuk umat Islam di seluruh dunia.

Radio Wahdah