Obrolan Angkringan Sarana Mitigasi Awal Bencana

Bantul — “Obrolan Angkringan malam ini merupakan kegiatan spesial, selain perdana diadakan juga membahas materi berupa mitigasi dan informasi terkini gempa Jogja”, terang Ustadz Aulia membuka kegiatan yang berlokasi di KongKring Angkringan dan Kopi, Ahad (2/7)

Berkaitan gempa yang terjadi di Jogja dan Jateng dalam sesi pembukaan Ustadz Elan Kurniawan perwakilan DUWD Wahdah Islamiyah mengingatkan apa yang sudah Allah tegaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Ankabut ayat ke-2:
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?”
“Dengan ujian gempa dan ujian lainnya membuat kita semakin kuat dan berprasangka baik kepada Allah”.

“Malam gempa bumi yang terjadi Wahdah langsung berkoordinasi dengan WIZ Pusat, Bidang Pelayanan Umat, Departemen Sosial, dan DPW DIY dan Jateng berkoord memberikan perhatian dengan membentuk tim relawan gempa berlokasi di Bantul”, tegas Ustadz Elan Kurniawan.

Bapak Suprihana, Kepala Bidang Pencegahan, Kesiapsiagaan, dan Penanganan Pascagempa BPBD Bantul mengawali materinya dengan menyampaikan, “Bantul diapit oleh sesar (patahan) Opak, Progo dan Samudra Indonesia-Australia merupakan sabuk api menjadikan kerawanan yang cukup tinggi dan selayaknya kita harus Siap, Tanggap dan Tangguh dalam menghadapinya”

BPBD Bantul dalam gempa Jogja yang terjadi pada Jum’at (30/6) telah melakukan tindakan; melakukan koordinasi dengan pihak terkait baik internal dan eksternal, melakukan asesment titik terdampak, pengiriman logistik dan pengiriman korban luka ke rumah sakit terdekat.

Berkaitan dengan terjadinya gempa di sekitar kita, Bapak Suprihana menerangkan pentingnya mitigasi sebagai upaya mengurangi dampak dan resiko yang terjadi disekitar kita.

Mitigasi dilakukan sebelum adanya bencana. Ada tiga hal mitigasi yang bisa kita lakukan; Pertama, mitigasi struktural artinya menguatkan dan mengamankan bangunan kita. Kedua, mitigasi non struktural diarahkan kepada sumber daya manusia utk siap, tanggap, dan tangguh. Ketiga, mitigasi iman menjadi hal penting untuk memperkuat diri kita.

BPBD Bantul senantiasa menggalangkan program Keluarga Si Tatang (Siap, Tanggap dan Tangguh), Kaltana (Kalurahan Tanggap Bencana) dan bentuk-bentuk pelatihan maupun sosialisasi lainnya sebagai bentuk mitigasi bencana kepada masyarakat.

Di akhir pemaparannya, melalui Bapak Suprihana, Kepala Pelaksana BPBD Bantul mengucapkan terimakasih dan dukungan dari Wahdah, agar selanjutnya bisa berkerjasama untuk melakukan langkah-langkah berkesinambungan.

#gempajogja #mitigasi #bencana #peduli #bpbd

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.