NIKMAT MEMANDANG WAJAH SANG KHALIK

JUMAT, 08 Safar 1445 H / 25 Agustus 2023 M
 Oleh Muhammad Ode Wahyu, S.Pd.I., S.H.

Dep. Dakwah DPD Wahdah Islamiyah Makassar

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ..

اللهم صلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ،  وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّار

أيها الناس رحمكم الله، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللِه فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Jamaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah…

Melihat wajah Allah -Azza wajalla- merupakan nikmat terbesar yang akan dirasakan oleh para penduduk surga di hari kiamat kelak. Inilah puncak kenikmatan, yang tidak ada lagi rasa nikmat yang lebih besar darinya.

Allah Azza wajalla berfirman:

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ (22) إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ (23)

Terjemahnya: Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (QS. Al-Qiyamah ayat 22-23)

Rasulullah -shallallahu ‘alahi wasallam- bersabda:

إنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا القَمَرَ

Artinya: “Sesungguhnya kalian akan melihat Allah -Azza wajalla- sebagaimana kalian melihat rembulan ini.” (HR. Bukhari)

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah -rahimahullah- berkata:

فَأَعْظَمُ نَعِيْمِ الآخِرَةِ وَلَذَّاتِهَا، هُوَ النَّظَرُ إِلَى وَجْهِ الرَّبِّ جَلَّ جَلَالُهُ، وَسَمَاعُ كَلَامِهِ مِنْهُ، وَالْقُرْبُ مِنْهُ

Artinya: “Nikmat terbesar dan terindah pada hari kiamat adalah melihat wajah Allah -Jalla Jalaluhu-, mendengar kalam dari-Nya dan dekat dengan-Nya.” (Ad-Daa-u Wa ad-Dawaa: 249)

Jamaah Jumat yang berbahagia

Melihat wajah Allah –Azza wajalla- memang menjadi harapan setiap hamba yang beriman. Tetapi, ada syarat yang harus dipenuhi oleh setiap hamba yang mengharapkannya. Syarat itu, termaktub dalam surah al-Kahfi ayat 110. Allah –Azza wajalla- berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Terjemahnya: “Barang siapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi ayat 110)

Syarat yang Allah -Azza wajalla- sebutkan untuk bisa bertemu dengan-Nya pada hari kiamat kelak dalam ayat ini adalah mentauhidkan Allah –Azza wajalla- dengan sebenar-benarnya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun. Keimanan pada-Nya tidak boleh dicampur adukkan dengan kesyirikan. Sebab, kesyirikan adalah dosa yang paling besar, dan orang-orang yang mencampur adukkan antara iman dan kesyirikan tidak akan selamat pada hari kiamat.

Allah –Azza’ wajalla- berfirman:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ 

Terjemahnya: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am ayat 82)

Ayat ini begitu jelas dan tegas menjelaskan bahwa orang-orang yang akan mendapat keamanan pada hari kiamat kelak adalah orang-orang yang tidak mencampur adukkan keimanan dengan kesyrikan. Sebab dosa syirik adalah dosa yang paling besar. Allah secara tegas menyebutkan di dalam al-Qur’an bahwa Dia mengharamkan surga bagi pelakunya.

Allah -Azza -wajalla- berfirman:

إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٖ 

Terjemahnya: “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al-Maidah ayat 72).

Jamaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah…

Menyekutukan Allah –Azza wajalla- merupakan perbuatan yang hina dan bentuk kejahilan. Ia hina, karena melakukan ibadah pada makhluk layaknya dirinya yang tidak menciptakannya, yang tidak mampu memberi manfaat atapun mudharat.

 Salah satu bentuk kesyirikan yang biasa dilakukan manusia zaman ini adalah syirik dalam masalah doa. Sebagian orang berdoa dengan memohon dan meminta sesuatu pada makhluk yang tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka meyakini Allah –Azza wajalla- sebagai Tuhannya, mereka berdoa pada-Nya, tetapi disamping itu, mereka juga berdoa dan memohon pada selain Allah. Misalnya, berdoa pada benda-benda yang dikeramatkan, berdoa pada pohon yang dikeramatkan, berdoa pada kuburan yang dikeramatkan dan berdoa pada makhluk-makhluk yang tidak bisa mendatangkan manfaat ataupun mudarat.

Doa merupakan satu jenis ibadah yang tidak boleh ditujukan kepada selain Allah –Azza wajalla-. Siapa yang berdoa dan berharap pada selain Allah –Azza wajalla- di dalam masjid ataupun di mana saja ia lakukan, maka dia telah melakukan kesyirikan. Allah –Azza wajalla- berfirman:

وَأَنَّ ٱلۡمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُواْ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدٗا 

Terjemahnya: “Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu berdoa (menyembah) pada seseorangpun di dalamnya di samping berdoa (menyembah) Allah” (QS. Al-Jin ayat 18)

Jamaah Jumat yang dirahmati oleh Allah…

Ayat ini menunjukkan bahwa seseorang bisa saja berdoa pada selain Allah –Azza wajalla- di masjid Allah walaupun ia juga berdoa pada Allah –Azza wajalla- di dalam masjid tersebut. Namun, perbuatan itu merupakan pebuatan syirik yang terlarang. Mungkin, kita bertanya, bagaimana syirik itu bisa terjadi di dalam masjid, sementara kita ketahui bahwa masjid itu hanya didatangi oleh orang-orang yang beriman untuk beribadah?

Jawabannya, mereka datang ke masjid untuk beribadah pada Allah –Azza wajalla- namun juga berdoa pada makhluk seperti berdoa kepada kuburan yang terdapat di dalam masjid. Ini adalah perbuatan syirik yang tidak boleh dilakukan.

Jika kita memperhatikan susunan ayat-ayat dalam surah al-Jin ini, letak ayat yang baru kita bacakan tadi terletak diantara ayat yang menjelaskan cerita para jin tentang kaum mereka dan ayat yang menjelaskan rombongan jin yang berdesak-desakan mengerumuni Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam- karena ingin melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beribadah. Setelah itu, Allah perintahkan kepadanya untuk menyampaikan kepada mereka bahwa ia hanya berdoa kepada Allah –Azza wajalla- saja dan tidak bisa memberikan mudharat serta manfaat kecuali dengan izin Allah –Azza wajalla-. Allah –Azza wajalla- berfirman:

وَأَنَّ ٱلۡمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُواْ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدٗا وَأَنَّهُۥ لَمَّا قَامَ عَبۡدُ ٱللَّهِ يَدۡعُوهُ كَادُواْ يَكُونُونَ عَلَيۡهِ لِبَدٗا قُلۡ إِنَّمَآ أَدۡعُواْ رَبِّي وَلَآ أُشۡرِكُ بِهِۦٓ أَحَدٗا قُلۡ إِنِّي لَآ أَمۡلِكُ لَكُمۡ ضَرّٗا وَلَا رَشَدٗا قُلۡ إِنِّي لَن يُجِيرَنِي مِنَ ٱللَّهِ أَحَدٞ وَلَنۡ أَجِدَ مِن دُونِهِۦ مُلۡتَحَدًا 

Terjemahnya: “Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadat), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya. Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya”. Katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudaratanpun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan”. Katakanlah: “Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorangpun dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya”. (QS. Al-Jin ayat 18-22)

Susunan ayat ini memberi isyarat agar kecintaan kita pada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- dan ketakjuban kita pada ibadahnya, tidak menjadikan kita menyekutukan Allah –Azza wajalla- dengannya. Kita tidak berdoa dan meminta kepada beliau di dalam masjid Allah, karena sesungguhnya masjid itu milik Allah, tidak layak seorang berdoa pada selain Allah disamping ia berdoa juga pada Allah –Azza wajalla.

Hal ini dapat kita lihat dari penjelasan Allah –Azza wajalla- dalam surah ini. Ketika Allah mengabarkan bahwa para jin sudah begitu banyak dan hampir saja berdesak-desakan karena ingin melihat Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- beribadah, maka pada beberapa ayat berikutnya Allah -Azza wajalla- memerintahkan pada Nabi untuk menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hanya menyembah Allah –Azza wajalla- saja, beliau tidak mampu memberi manfaat dan mudharat dan tidak mampu memberikan perlindungan dari azab Allah kecuali dengan izin Allah –Azza wajalla-. Beliau hanyalah rasul yang menyampaikan apa yang Allah wahyukan. Oleh karenanya, siapa saja yang bermaksiat kepada Allah –Azza wajalla- dan kepada Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam- dengan menjadikannya sebagai serikat bagi Allah dalam berdoa kepada-Nya, maka sungguh balasannya adalah azab yang pedih.

Doa adalah ibadah, maka tidak boleh melakukan doa pada selain Allah -Azza wajalla-. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الدُّعاءُ هُوَ العِبَادَةُ

Artinya: “Doa itui adalah ibadah.” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Adab al-Mufrad).

Inilah perkara yang tidak diinginkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu berlebih-lebihan dalam menyanjung dan memuliakannya hingga menjadikan kedudukannya seperti kedudukan Tuhan, sebagaimana orang-orang Nashrani menjadikan Nabi Isa sebagai Tuhan.

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

لَا تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ؛ فإنَّما أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا: عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

Artinya: “Janganlah kalian berlebih-lebihan menyanjungku sebagaimana kaum Nashrani menyanjung Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku ini hanyalah hambaNya. Maka katakanlah, aku adalah hamba dan Rasul-Nya. (HR. Bukhari)

Jamaah Jumat yang dimuliakan oleh Allah…

Mentauhidkan Allah -Azza wajalla- merupakan amalan yang paling agung dan paling penting dalam kehidupan setiap manusia.Karena inilah Allah mengutus para nabi dan rasul untuk menyampaikan perkara penting in kepada manusia. Allah -Azza wajalla- berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Terjemahnya: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Tagut itu. ” (QS. An-Nahl ayat 36)

Maka, siapapun yang ingin bertemu dengan Allah –Azza wajalla-, melihat wajah-Nya yang memiliki keagungan dan kemuliaan di surga, maka hendaklah ia mengesakan Allah dengan sebenar-benarnya dan tidak menyekutukan Allah -Azza wajalla- dengan sesuatu apapun.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ عَلَىْ إِحْسَاْنِهِ ، وَالْشُّكْرُ لَهُ عَلَىْ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَاْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَاْ إِلَهَ إِلَّاْ اللهُ تَعْظِيْمَاً لِشَأْنِهِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْدَّاْعِيْ إِلَىْ رِضْوَاْنِهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَعَلَىْ آلِهِ وَأَصْحَاْبِهِ وَإِخوَانِهِ

فَيَا اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا االلهَ تَعَالىَ وَذَرُوا الْفَوَاحِشَ مَاظَهَرَ وَمَا بَطَنْ، وَحَافِظُوْا عَلىَ الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ.

وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ قُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاً عَلِيْمًا: اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىْ يَاَ يُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
 اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،يَا سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً  إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا تَقَبَّل مِنَّا وَقِيَامَنَا وَسَائِرَ أَعمَالِنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ المُسْلِمِيْنَ وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَ المُشْرِكِينَ وَأَعدَاءَكَ يَا عَزِيزٌ يَا قَهَّارٌ يَا رَبَّ العَالَمِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Download PDFnya di https://bit.ly/NimatMemandangWajahSangKhalik

Sumber: https://wahdahmakassar.or.id/artikel/nikmat-memandang-wajah-sang-khalik

One thought on “NIKMAT MEMANDANG WAJAH SANG KHALIK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.