Masih Ikut-ikutan Merayakan Tahun Baru Masehi?

Alhamdulillah washolatu wassalamu ala rasulillah.

Diantara kemuliaan islam adalah allah subhanahu wata’ala telah memilihkan dan mengumpulkan bagi kita semua yang baik-baik. Dan melarang kita dari hal-hal yang buruk-buruk.

Sebagaimana Firman allah subhanahu wata’ala :

وَیُحِلُّ لَهُمُ ٱلطَّیِّبَـٰتِ وَیُحَرِّمُ عَلَیۡهِمُ ٱلۡخَبَـٰۤىِٕثَ

“Dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka” [Q.S. Al-A’raf: 157]

Pertama :
Allah telah memilihkan hari raya yang terbaik bagi ummat yaitu islam adalah idul fitri dan idul adha. Maka kita tidak perlu lagi membuat perayaan hari Raya lain, apalagi ada kaitannya dengan agama lain.

Sebagaimana sabda rasulullah shallallahu alaihi wasallam :

قدمت عليكم ولكم يومان تلعبون فيهما إن الله عز و جل أبدلكم بهما خيرا منهما يوم الفطر ويوم النحر

“Saya mendatangi kalian dan kalian memiliki dua hari raya, yang kalian jadikan sebagai waktu untuk bermain. Padahal Allah telah menggantikan dua hari raya terbaik untuk kalian; idul fitri dan idul adha.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Nasa’i).

Diantara sebab asbabul wurud hadtis ini adalah dahulu penduduk kota madinah merayakan dua hari raya, Nairuz dan Mihrajan. Kemudian beliau melarang mereka untuk melanjutkan perayaan jahiliyah tersebut.

Kedua :
Hari Raya merupakan bentuk simbolis dari suatu agama yang orang islam dilarang untuk mengikuti nya.

Kebanyakan orang dewasa ini latah untuk ikut-ikutan dalam perayaan sesuatu, tanpa mengetahui asal-usul dari perayaan tersebut. Padahal perayaan tahun baru merupakan bagian dari agama lain.

Pesta tahun baru masehi, pertama kali dirayakan orang kafir, yang notabene masyarakat paganis Romawi. Merekapun memiliki keyakinan yang bermacam-macam tentang hal ini, sebagian mereka mengatakan bahwa tersebut merupakan hari yang sangat istimewa.

Sebagai persembahan untuk salah satu dewa dewa yang bernama Janus. Janus adalah seorang dewa yang memiliki dua wajah, satu wajah menatap ke depan dan satunya lagi menatap ke belakang, sebagai filosofi masa depan dan masa lalu, layaknya momen pergantian tahun.

Memiliki keyakinan seperti ini tentu saja dapat membuat seseorang menjadi kufur, karena dalam islam hanya ada satu tuhan yang berhak disembah yaitu allah subhanahu wata’ala.

Sebagaimana Firman allah subhanahu wata’ala :

قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَد

“Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.” [Q.S. Al-Ikhlas: 1]

Mengikuti hari raya mereka termasuk bentuk loyalitas dan menampakkan rasa cinta kepada mereka. Padahal Allah melarang kita untuk menjadikan mereka sebagai kekasih (baca: memberikan loyalitas) dan menampakkan cinta kasih kepada mereka.

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا عدوي وعدوكم أولياء تلقون إليهم بالمودة وقد كفروا بما جاءكم من الحق …

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (rahasia), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu..” [Q.S. Al-Mumtahanan: 1]

Ketiga :
Merayakannya berarti tasyabbuh dengan orang kafir.

Ketika kita sudah tau bahwa perayaan tahun baru masehi ini ada kaitannya dengan simbol agama lain, maka kut-ikutan merayakan tahun baru masehi ini adalah diatara bentuk kemungkaran yang kita harus tinggalkan, dan menyeru kepada orang-orang agar meninggalkan acara perayaan tahun baru ini.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :

من تشبه بقوم فهو منهم

“Siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.” (H.R. Abu Daud)

Namun angat disayangkan, acara ini terus dirayakan oleh masyarakt modern dewasa ini, walaupun mereka tidak mengetahui kronologi ibadah pagan adalah latar belakang diadakannya acara ini. Mereka menyemarakkan hari ini dengan berbagai macam permainan, lagu, musik, kembang api dan sebagainya.

Dari Abu Sa’id Al Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ . قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang penuh lika-liku, pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (H.R. Muslim)

Dan tidak jarang ada yang sampai bergadang menunggu pergantian tahun di pukul 00.00 bahkan ada yang sampai pagi tidak tidur, yang akhirnya sholat subuh yang wajib malah ditinggalkan.

Padahal meninggalkan sholat dengan sengaja bisa berakibat kufur bagi pelakunya, sebagaimana sabda rasulullah shallallahu alaihi wasallam :

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

“Sesungguhnya (pembatas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (H.R. Muslim)

Keempat:
Perayaan tahun baru merupakan bid’ah yang terjadi di agama lain.

Orang-orang nasrani tidak ada satupun diantara mereka yang mengetahui dengan pasti kapan kelahiran isa al masih, karena tidak ada ilmu silsilah riwayat kecuali dalam agama islam.

Abu Ali al-Jayani menegaskan,

خصّ الله تعالى هذه الأمة بثلاثة أشياء لَمْ يعطها مَنْ قَبْلَهَا مِنَ الأمم : الإسناد ، والأنساب ، والإعراب

“Tiga keistimewaan yang oleh Allah hanya diberikan kepada umat [Islam] ini, tidak kepada umat sebelumnya, adalah: Isnad, Nasab, dan I’rab.”

Dan juga Syaikh Hatim Al Mudhoffir mengatakan :

إنّ الله أَكْرَمَ هَذِهِ الأمة وشرّفها وفضّلها بالإسناد، وليس لأحد من الأمم كلها

“Sesungguhnya allah memuliakan ummat ini dan memberikan keutamaan dengan ilmu isnad, dan tidak ada satupun diantara ummat lain yang memilikinya.”

Yang akhirnya terjadi perbedaan pandangan diantara ummat ahlul kitab tentang hari kelahiran isa al masih tersebut, sebagian menganggap tanggal 25 desember dan sebagian yang lain menganggap tanggal 26.

Namun anehnya, walaupun mereka berbeda pendapat didua hari itu, mereka sepakat membuat bid’ah (sesuatu yang baru) dalam agama mereka yaitu merayakan tahun baru masehi pada tanggal 1 januari. Yang artinya perayaan tahun baru masehi di tanggal 1 januari itu adalah bid’ah yang muncul di agama mereka.

Kita sebagai orang islam, bukankah selalu mewanti-wantikam diri, keluarga, sahabat, dan semua kaum muslimin untuk menghindari bid’ah dalam agama kita?

Lalu bagaimana jika bidah ini berasal dari agama lain, tentusaja peringatan untuk saudara-saudara kita harusnya lebih keras lagi.

Tahun Baru sama dengan Hari Raya Orang Kafir,
Turut merayakan tahun baru statusnya sama dengan merayakan hari raya orang kafir. Dan ini hukumnya terlarang.

Lalu apa yang harus dilakukan pada malam tahun baru?

1. Keyakinan bahwa malam tersebut seperti malam-malam yang lain, tidak memiliki keistimewaan apapun.
2. Setelah isya persiapan istirahat, untuk pesiapan bangun qiyamullail dan sholat subuh.
3. Berdo’a sebelum tidur.
4. Istrahat.

Wallahu a’lam

Madinah, Jum’at/16 Rabiul Akhir 1441H.
Oleh : H. Yoshi Putra Pratama S.H.,
(Mahasiswa UIM KSA & Alumni STIBA Makassar)

Sumber dari: https://wahdah.or.id/masih-ikut-ikutan-merayakan-tahun-baru-masehi/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.