Lembaga Khidmah Qur’an Optimis Membina Masyarakat Muslim Jogja Agar Bisa Ngaji

JOGJA – Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya adalah umat Islam. Diketahui sebanyak 231,06 juta atau setara dengan 86,7% dari penduduk Indonesia adalah beragama Islam berdasarkan laporan The Royal Islamic Strategic Studies Centre (RISSC) atau MABDA bertajuk The Muslim 500 edisi 2022, dan sekitar 65% dari penduduk muslim di Indonesia tersebut belum bisa mengaji.

Kemudian data dari Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri mencatat, jumlah penduduk Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta yang beragama Islam terdapat 3,42 juta jiwa pada Desember 2021. Jumlah tersebut porsinya mencapai 92,89% dari total penduduk sebanyak 3,68 juta jiwa.

Melihat data di atas tentu hal ini menjadi sebuah kekhawatiran sehingga kemudian perlu sebuah langkah nyata untuk mengurangi penduduk yang belum bisa mengaji tersebut.

Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Wahdah Islamiyah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Lembaga Khidmah Qur’an kemudian berusaha mengambil peran dalam memberantas buta huruf Al-Qur’an di Indonesia terkhusus di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Diklat Guru Ngaji dengan menggunakan metode “DIROSA” menjadi langkah awal untuk cita-cita mulia ini. Tercatat sebanyak 25 orang telah mengikuti kegiatan Diklat Guru Ngaji DIROSA Batch ke-2 pada Ahad (29/01/2023).

Pasalnya, 200-an orang masyarakat Jogja telah dibina dan diajar ngaji sebelumnya oleh Lembaga Khidmah Qur’an agar bisa membaca Al-Qur’an.

“Dari Diklat Bacth ke-2 ini, kami berharap kita mampu membina masyarakat Yogyakarta hingga menembus angka 900-an orang dan jika ditambah yang sebelumnya berarti telah membina 1.100 orang.” papar Andrey, Ketua Lembaga Khidmah Qur’an Yogyakarta dalam sambutannya.

Diklat ini berjalan kondusif dan lancar. Dimulai dari pukul 08.00 hingga pukul 15.00 di masjid At-Taubah, Soragan, Ngestiharjo, Bantul, Yogyakarta.

Menjadi guru mengaji tentu tidak mudah, karena ada begitu banyak tantangan di lapangan yang terkadang menghadang. Sehingga guru ngaji dirasa perlu untuk dibekali sebelum kemudian diterjunkan ke lapangan.

Dalam Diklat Guru Ngaji ini, terdapat 4 sesi. Pertama peserta diklat dibekali dengan materi motivasi. Kedua, dilanjut dengan metodologi mengajar ngaji dengan metode DIROSA. Sesi ketiga, diisi dengan praktek ngaji metode DIROSA dan ditutup dengan Micro Teaching pada sesi keempat.

“Bukan hanya semangat kita (guru ngaji) yang senantiasa perlu dijaga, tapi semangat peserta DIROSA (peserta ngaji) juga harus kita jaga.” ungkap Haris, salah satu pemateri Diklat Guru Ngaji DIROSA.

Oleh : Arham Ramlan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.