3 Amalan yang Tak Terputus Pahalanya

Setiap kita akan mati. Setiap kita akan pergi meninggalkan dunia ini. Dan setiap kita hanya akan menikmati bekalnya sendiri-sendiri. Menikmati bekal yang hari ini (di dunia) di persiapkannya sebanyak mungkin.

Tak ada yang kekal dengan umurnya di dunia ini. Jangankan manusia biasa, Nabi kitapun diingatkan bahwa beliau kelak pasti akan berpisah dengan dunia ini. Bahkan manusia-manusia dahulu yang merasa bahwa merakalah manusia terkuat dengan postur badan besar tinggi dengan otot kekar pun mereka telah tiada, tak ada yang kekal hidupnya hingga hari ini.

Allah ta’ala berfirman,

وَمَا جَعَلۡنَا لِبَشَرٖ مِّن قَبۡلِكَ ٱلۡخُلۡدَۖ أَفَإِيْن مِّتَّ فَهُمُ ٱلۡخَٰلِدُونَ

Artinya: “Dan Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia sebelum engkau (Muhammad); maka jika engkau wafat, apakah mereka akan kekal?” (QS. Al-Anbiya’: 34)

Ketika kita masih hidup, kita mungkin masih bisa berbagi bekal atau meminta bekal ketika kita dalam perjalanan atau melakukan touring ke tempat tertentu. Berbagi bekal itu tak berlaku ketika kita sudah beralih kediaman. Ya, kediaman itu adalah ketika kita sudah di alam yang lain, bukan di dunia lagi.

Umur kita singkat sahabat…

Sepanjang apapun umur kita, tetap ia akan mendapatkan yang namanya akhir, karena kita sekali lagi masih berada didunia ini. Umur kita tak panjang-panjang amat, hanya berkisar 60 sampai 70 tahun saja. Jika ada yang lewat dari umut tersebut, itu hanya sedikit. Dan yang mendapatkan umur yang lebih, bersyukurlah kepada Allah karena itu adalah bonus yang Allah berikan untuk hamba-Nya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

“Umur umatku antara 60 hingga 70 dan sedikit dari mereka yang melebihi itu.” (HR. Tirmidzi, no. 3550; Ibnu Majah, no. 4236. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Karena setiap kita akan mati. Karena setiap kita akan melakukan perjalanan sendiri-sendiri. Karena setiap kita membutuhkan bekal dalam perjalanan yang entah kapan akan sampainya.  Maka, edukasi dari Nabi kita tercinta terkait dengan amalan yang tak akan ada putus-putusnya meskipun kita sebagai pelakunya sudah meninggalkan dunia ini, bisa kita amalkan dengan baik.

Nabi kita menyebutkan ada tiga amalan yang ketika kita investasikan ia sejak dini, insya Allah pahala mengalir nanti tak akan putus-putus.

Mari simak hadisnya, bila perlu mari kita hafalkan dan kemudian ajarkan, sebarkan kepada yang lainnya. Karena ini juga merupakan bagian dari amalan tersebut, yaitu berbagi ilmu yang bermanfaat untuk dirinya dan orang lain, kini dan nanti.

:عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَة رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ

قَالَ رَسُوْلُ الله صَلّى الله عَلَيْه وَسَلّم: ((إِذَا مَاتَ ابن آدم انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ من ثلاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أو وَلَدٍ صالحٍ يَدْعُو لَهُ)) (رَواه مسلم)

Artinya: “Dari Abu Hurairah serta, dia berkata: “Rasulullah bersabda: ‘Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendo’akannya.” (HR. Muslim)

Hadis di atas ini sahabat memiliki banyak kandungan serta faedah. Semoga ketika kita mengetahuinya, kita bisa lebih termotivasi lagi untuk mengamalkan tiga amalan yang tak kan terputus balasannya ini.

Mari bersedekah sahabat, selama kita masih hidup. Karena harapan yang telah meninggal adalah dikembalikan kedunia untuk bersedekah. Mari belajar dan mengajar sahabat. Mari menyebarkan ilmu entah itu via online atau offline. Dan mari menyiapkan anak yang sholeh sholehah. Mendidik mereka dibawah naungan kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya. Dan berdo’alah agar ke istiqomahan diberikan selalu oleh Allah untuk para hamba-hamba-Nya yang ingin berubah lebih baik dari hari ini.

Kandungan hadits:

  • Anjuran untuk mempersiapkan bekal sebelum mati dengan amal-amal shalih.
  • Amal-amal shalih yang manfaatnya tetap berlanjut setelah orangnya meninggal dunia, maka pahalanya tetap mengalir kepadanya.
  • Anjuran agar melaksanakan amal kebaikan dengan cara wakaf, seperti membangun masjid, madrasah, membuat sumur, atau menanam pohon. Semuanya itu merupakan sedekah jariyah.
  • Disunnahkan mengajarkan ilmu dan menyusun kitab-kitab yang bermanfaat.
  • Itulah di antara ilmu nafi’ (yang bermanfaat) yang pahalanya tetap berlangsung sepanjang zaman.
  • Anjuran untuk mendidik anak dan mengajari mereka perkara yang fardhu dan sunnah, serta adab sopan santun agar mereka menjadi orang-orang shalih.

Rujukan:

Hadits no. 1383 – Kitab Bahjatun Nazhirin Syarhu Raiyadhush Shaalihiin, Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali

____

Oleh: Absa’id

Editor: Syaibani Mujiono

Sumber dari: https://wahdah.or.id/3-amalan-yang-tak-terputus-pahalanya/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.